Kemerdekaan RI Dalam Pandangan Islam

“Syahru romadhoonallazhi undzila fiihilqur’an hudallinnasi wabaiyinatimminalhudaa walfurqoon  artinya bulan ramadhon telah kuturunkan di dalamnya Al-qur’an sebagai hidayah buat manusia dan juga memberikan petunjuk sekalian kemuliaannya.”

Lebih kurang 3 hari lagi tepatlah kiranya sebagai rakyat Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun kemerdekaannya yang ke 66, tetapi adakah kemerdekaan hubungannya dengan ramadhan sekaligus makna Al-Qur’an itu sendiri?…

Bahwa tidak dapat dipungkiri kemerdekaan Republik Indonesia adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan kalimat seterusnya yang tercantum di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang bertepatan dengan hari Jum’at Legi 9 Ramadhan 1364 H. Anugerah kemerdekaan maka lahir pembukaan, preambule atau mukaddimah dalam setiap dokumen konstitusi selalu berisikan pernyataan yang singkat tapi sungguh padat. Sudah jelas isinya tertuang dalam bahasa manajemen disebut visi, misi dan nilai-nilai dasar sebuah institusi atau organisasi sebagai wadah kebersamaan yang hendak dibangun dan dijalankan bersama.

Sebagai rakyat Indonesia patutnya bersyukur atas kemerdekaan tersebut serta landasan idiilnya  Pancasila dan konstitusionalnya UUD 1945, yang dikenal sebagai prinsip-prinsip dasar antara lain: Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan spitual dan moralnya, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab sebagai landasan etikanya, Persatuan Indonesia sebagai acuan sosialnya, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan sebagai landasan politiknya, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai tujuan dan golnya.

Perjalanan kemerdekaan dan isinya yang terus menerus harusnya rakyat Indonesia bersama pemimpinnya dapat memberikan arti dan makna penting untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang berbeda dari negara-negara lain terutama mengenai konstitusinya serta kemaslahatan, kemakmuran dan kesejahteraan bangsanya. Sehingga tidak salah para pendiri Republik ini menciptakan kemerdekaan, pedoman bangsanya Pancasila yang tidak lain sebuah ketentuan sakral yang harus dipatuhi. Tetapi sebaliknya dari tahun ke tahun kemerdekaan sebagai simbol dan srimonial. Lebih fatal lagi kehormatan negara tidak diletakkan sebagai hakekat maknawiyah dan sebagai kodrat negara Republik Indonesia. seperti terjadinya korupsi dimana-mana tanpa ada penyelesaian berarti, pembiaran warganegara disiksa diluar negeri, kejahatan negara dan kemanusiaan lainnya, termasuk pemberian penghargaan negara kepada yang tidak pantas dan layak.

Dipandang dari amal, baik berupa ucapan atau perbuatan. Tidak lain amal bisa bernilai baik atau buruk sehingga muncul dari kemerdekaan memilih (ghoir mukrah) yang ditegaskan dalam niat. Amal lahir dari keterpaksaan tidak bernilai apa-apa. Sebagaimana di dalam hadits Rasulullah SAW menyatakan “Innamal’amalu binniyaati  wainnamaa likulli imri-in maa nawa artinya sesungguhnya setiap amal tergantung dari niat, dan sesunguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”(HR al-Bukhori).

Maka prinsip kemerdekaan juga sejalan dengan konsep fikih, bahwa kemerdekaan merupakan syarat taklif (memikul perintah/larangan). Bahwa inti pesan Islam baik dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah taklif untuk berbuat kebaikan menjauhi keburukan. Sudah barang tentu berbuat terpuji dan membuang yang tercela. Secara implisit Islam menghendaki setiap manusia dalam keadaan merdeka untuk memilih, bukan sebagai “mukrah”,  terbelenggu berada dalam ancaman atau tekanan pihak lain. Kemerdekaan adalah salah satu syarat mutlak bagi keberadaan manusia sebagai “al-mukallaf”, (pemikul perintah dan larangan Allah yang Mahabaik). Tanpa mandat ini sekalian dengan kemerdekaannya, maka manusia hanya setara dengan binatang.

Jadi salah satu amal sholeh yang paling utama dan tinggi adalah memberikan kemerdekaan atau memerdekakan “budak”, manusia yang terjajah, tertindas dalam belenggu oleh kemauan pihak lain. Sebagaimana firman Allah SWT; “wamaa idrooka mal’aqobah, fak’ku roqobatin au-ith’amunm fii yaumin dzii masnghobah, yatiiman dzaa maqrobatin au miskiinan dza mathrobatin artinya tahukan engkau apa itu aqobah? adalah memerdekakan orang yang terbelenggu, terjajah atau memberi makan di hari sulit kepada orang yatim atau orang miskin. (QS al-Balad (90):12-16).

Disamping itu seorang sahabat Rasulullah SAW yakni Umar masa kholifah Islam ke 2 dalam salah satu ucapannya mengatakan: “matassta’abadtumunnaasa wa-qod waladathum ahrooron ummahaatuhum yang artinya kapan kalian anggap manusia-manusia itu budak? padahal ibu mereka telah melahirkannya dalam keadaan merdeka? (Ibnu al-Jauzi, Qishah Umar, 118)

Kodrat manusia bukanlah semata-mata makhluk individual melainkan juga makhluk sosial. Artinya kemerdekaan manusia individu tanpa kemerdekaan kolektif sebagai komunitas atau bangsa akan sangat rapuh dan dapat kehilangan signifikansinya. Kemerdekaan suatu bangsa mutlak bagi kemerdekaan manusia individu-individunya.

Tidaklah heran betapa karunia dan kenikmatan kemerdekaan 17 agustus 1945 serta kecerdasan barokah dari Allah Maha Besar kepada bangsa dan rakyat Indonesia di dalam bulan suci ramadhon. Dengan relevansinya, turunnya kitab suci Al-qur’an sebagai imam dan panutan ummat Islam yang ada di dalam bulan tersebut, tetapi mengapa sebagian Ummat Islam masih tetap mempersoalkan atas pedoman dan falsafah negara ini yang dirajut dari kemerdekaannya. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk & hidayahNya, bagaimana anda?….

Di buat oleh : M. Zulfi Azwan

Sumber : http://suarakawan.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pahami Secara Mendalam, Tak Sekedar Fitnah dan Pencitraan

%d blogger menyukai ini: